DATANGNYA KAPAL
DATANGNYA KAPAL.
Pagiku disambut kabar buruk yang tak pernah kusangka, Sang Guru
akan pergi meninggalkan kami. Bergegas kupacu motorku menuju pelabuhan aku
tidak ingin kecewa tapi tak bisa kupungkiri aku ingin bertemu dengannya
setidaknya untuk terakhir kalinya, bukan apa saat ini bukan aku yakin ada
banyak orang selain diriku yang menuju pelabuhan dengan alasan yang sama.
Bisa kalian bayangkan betapa tidak relanya hati bila orang
yang memberikan kesejukan lewat
kehadiran dan tutur katanya, seseorang yang terlihat begitu bijaksana akan
pergi.
Aku sampai di pelabuhan, kulihat dari kejauhan Sang Guru
kami berjalan dengan santai seolah ia tidak membawa beban apapun ketika akan meninggalkan
kami, “guru tinggallah beberapa lama lagi di sini, dan jikalau bisa sudillah
menetap bersama kami ” teriak seseorang yang tidak dapat kulihat wajahnya pun
tidak kukenali suaranya, tapi ucapannya seolah mewakili apa yang ingin kusampaikan
, dan mungkin itu juga yang ada di kepala mereka yang ikut berkumpul di sini.
Sang Guru menghentikan lngkahnya dan memalingkan wajah
damainya pada kami, ia mengambil nafas panjang dan semua orang terdiam, tidak
ada suara dari penjuru manapun tidak ada angin atau suara bising lain
sebagaimana biasa ditemukan di sebuah pelabuhan, semua mata menuju padanya
dengan hati yang terus berharap. “aku tidak mengerti dengan apa yang kalian
pikirkan, aku datang pada kalian hanya sebagai pengelana yang singgah di tempat
kalian, sebagai pengelana biasa yang ikut menjalani kegiatan sebagaimana kalian
biasa lakukan. Kalian tidak pernah bertanya padaku tentang hal hal yang lebih
dalam tentang apa yang sudah kalian ketahui bahwa mungkin aku punya jawabannya,
lalu sekarang ketika aku ingin pergi kalian berbondong bondong datang dan
menyuruhku tinggal aku benar benar tidak mengerti. ”
Kapal datang membawa Sang Guru kami pergi meninggalkan kami
yang berlinang air mata penyesalan atas kebodohan diri kami yang menyianyiakan
kehadiran orang yang bijaksana yang mungkin bisa menjawab pertanyaan pertanyaan
yang kami tidak tau harus mencari jawaban pada siapa, dan saat orang itu ingin
pergi kami baru menyadari betapa bodohnya kami.
Tapi sungguh aku merasa beruntung karena sampai pada saat
terakhir dirinya hadir di sekitar kami ia masih memberikan kami pelajaran yang
mungkin tidak akan terlupakan.
Selesai.
Comments
Post a Comment