PURNAMA
Bacalah dengan perlahan karena ini aku
rangkaikan khusus untukmu.
Gadisku
tercinta, bersama dengan surat ini kukirimkan padamu setangkai bunga mawar yang
cantik, bersama dengan harapanku yang terukir di setiap kelopak bunganya untuk
bisa menyaksikan indahnya perputaran dunia di dadamu, dan tak lupa
kubawakan juga biji bunga matahari yang akan menemani panjangnya perbincangan
kita. Gadisku, aku tersenyum malu dengan kalimat yang kukatakan barusan,
tidakkah kau sadar, jarak menenggelamkanku dalam lautan yang dunia menyebutnya
kerinduan? Kenyataan masih belum berubah, aku masih sendiri di sini duduk
termenung di balkon rumahku tanpa aromamu, tanpa suaramu apalagi sentuhanmu.
Kedua genggam tanganku sudah penuh, tangan kiriku mengenggam harapan dan doa
doa untukmu sedangan tangan kananku mengenggam bunga mataharimu. Perlahan aku
meletakkan bunga itu pada meja di depanku, dengan lembut aku merobek harapan
yang ada pada tangan kiriku dan menjejalkannya ke setiap kelopak bunga yang
akan ku berikan untukmu.
Ahhh
mana mungkin aku hanya memberikan ini, kataku dalam sanubari yang kian menjerit
sepi. Kuletakkan bunga untukmu itu pada lemari kaca, lalu keluar, berjalan kaki
menelusuri jalan kota. Jalan begitu ramai seperti biasanya, entah bersamamu atau tidak kota ini memang tidak memedulikannya, tiba tiba
terpikirkan olehku, jika ramai berasal dari sepi maka mungkin aku akan dapatkan
hal bagus di jalan yang sepi. Langkahku seketika terhenti di pertigaan jalan
itu, kuambil jalan ke kanan yang tidak memiliki banyak gemerlap lampu ,
langkahku mulai bertambah cepat, aku tidak tau jalan ini menuju ke mana tapi
aku mulai merasakan ada sesuatu yang berbeda, aku berhenti. Mulai melihat
sekelilingku dan tidak ada apapun selain kegelapan dan mata kucing yang
bersinar. Aku menyadari dua hal jalan yang sepi ini membuat hatiku menjadi
lebih ramai dan kegelapan ini adalah kepalsuan, gelap tidak pernah ada yang ada
hanyalah ketidakhadiran cahaya.
Gadisku,
aku membulatkan tekatku untuk memberimu segenggam cahaya yang takkan
meninggalkanmu atau bersembunyi darimu, agar dirimu dapat melihat semua dengan
jelas, dan yang paling penting adalah agar gelap tak jadi batas yang
menghentikan langkah kakimu. Aku mulai berjalan lagi menengok ke kanan, ke kiri
mencari cahaya yang cukup terang untuk ku beri padaamu, aku mulai berpikir
tentang senja, dan fajar dan menyiapkan siasat untuk mencurinya dari semesta.
Tiba tiba ada cahaya terang yang menyorotku setelah aku keluar dari himpitan
gedung tinggi. Itu adalah cahaya purnama, “pemandangan yang menakjubkan, wahai
purnama Bulan Juni izinkan aku mengambil segenggam cahayamu.” Kataku dengan
wajah riang, segera ku keluarkan pisau dari saku celanaku, lalu mencongkel
sedikit dari cahaya purnama itu.
Malam
itu adalah malam paling menggembirakan untukku, cahayanya begitu terang dan
menawan, benar benar cahaya yang luar biasa indah, aku tidak yakin ada kata
kata di dunia yang akan bisa mendefinisikannya. Aku segera memasukkan cahaya
purnama ke saku jaketku, aku berjalan, berjalan, berlari, berlari, semakin
cepat dan semakin cepat menuju rumahku. aku memilih menghindari segala jenis
cermin, yang akan menampilkan wajahku yang seperti orang gila karena terlalu
bahagia. Gadisku yang manis, tunggulah aku punya sesuatu yang benar benar hanya
untukmu.
Kuletakkan
cahaya purnama pada lemari kaca, bersampingan dengan bunga matahari untukmu,
sayang. Aku merebahkan diri di ranjang tak sabar menunggu hari esok, dimana
akan kukirimkan ini padamu. Cahaya purnama itu menembus lemari kaca dan
menerangi kamarku dengan cahaya yang menawan. Kedua mataku mulai terpejam, aku
tertidur dengan senyum di bibirku.
“Kring
kringgggg” ahhh suara menyebalkan itu sudah berbunyi, aku tidak percaya dengan
kenyataan ini, cahaya purnama meredup dan tak lama kemudian padam. Tubuhku
bergemetar keseimbanganku hilang, ahhh benar juga purnama tidak pernah benar
benar memiliki cahaya, dia hanya memantulkan cahaya mentari. Kemalangan terus
menimpaku hari sudah semakin siang, dan fajar telah berlalu, dan aku tidak
punya waktu menunggu senja datang. Gadisku maafkan kebodohanku aku benar benar
telah menyia nyiakan waktuku. Di depan cermin aku melihat diriku, tubuhku penuh
lubang akibat potongan kebahagiaan mulai hilang dari diriku.
Kututup
semua jendela dan mematikan semua lampu, menghadap cermin, lalu menangisi
kebodohanku, menangisi penyesalan ini. Terlihat di depanku seperti ada cahaya
yang redup, tapi nyala. Itu adalah cahaya mataku yang berbinar. Aku tersenyum
berkata lirih, “selamat tinggal pemandangan dunia yang menawan”.
kalian bisa mendapatkan jawaban akhir dari kisah ini di kepala kalian masing masing, mungkin akan berbeda denganku, tapi di situlah titik yang kumau.
Comments
Post a Comment